Hipertensi Pada Kehamilan: Penyebab, Jenis Dan Pencegahannya

hipertensi pada kehamilan
Source: Spirit.we.id

Ibu-ibu.net – Kehamilan untuk setiap wanita belum tentu berjalan dengan lancar, terutama pada kesehatan ibu hamil. Ada beberapa kasus atau faktor yang dapat menganggu kondisi kesehatan ibu hamil. Salah satunya hipertensi pada kehamilan atau tekanan darah tinggi.

Tekanan darah adalah jumlah tekanan yang dihasilkan oleh proses pompa jantung untuk mengalirkan darah keseluruh tubuh. Tekanan darah seseorang dianggap tinggi bila pembacaan tekanan darah lebih besar dari 140 mmHg pada sistolik (angka tertinggi dalam pembacaan tekanan darah) dan pada diastolik 90 mm Hg (angka terbawah).

Hipertensi pada kehamilan dapat membahayakan baik kehamilan itu sendiri maupun bagi ibu. Kondisi penyakit ini banyak terjadi pada usia ibu hamil di bawah 20 tahun atau di atas 40 tahun, kehamilan dengan bayi kembar, atau terjadi pada ibu hamil dengan kehamilan pertama.

Wanita dengan tekanan darah tinggi yang sudah ada sebelum kehamilan atau kronis, lebih cenderung memiliki komplikasi tertentu selama kehamilan. Efek tekanan darah tinggi berkisar dari ringan hingga berat. Tekanan darah tinggi bisa membahayakan ginjal ibu dan organ tubuh lainnya, sehingga bisa menyebabkan persalinan dini. Pada kasus yang paling serius, ibu mengembangkan praeklampsia yang dapat mengancam ibu dan janin.

Ada dua hal penyebab hipertensi, yaitu hipertensi essensial atau hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat seperti stress, konsumsi garam berlebihan, merokok, minum beralkohol dan kafein, timbunan lemak tubuh, kelebihan berat badan, dan faktor keturunan. Hipertensi sekunder disebabkan oleh adanya gangguan ginjal atau jantung.

Ada beberapa jenis hipertensi pada kehamilan diantaranya adalah:

Hipertensi kronis. Hipertensi kronis adalah tekanan darah tinggi yang terjadi sebelum kehamilan atau yang terjadi sebelum 20 minggu kehamilan. Tapi karena tekanan darah tinggi biasanya tidak memiliki gejala, mungkin sulit untuk menentukan kapan dimulainya.

Hipertensi kronis dengan praeklamsia berlapis. Kondisi ini terjadi pada wanita dengan hipertensi kronis sebelum hamil dan tidak ditangani dengan baik sehingga menyebabkan memburuknya tekanan darah tinggi dan ditemukannya protein dalam urin atau komplikasi terkait tekanan darah lainnya selama kehamilan.

Hipertensi gestasional. Wanita dengan hipertensi gestasional memiliki tekanan darah tinggi yang terjadi setelah 20 minggu kehamilan. Tidak ada kelebihan protein dalam urin atau tanda-tanda kerusakan organ lainnya saat Anda mengidap hipertensi ini. Beberapa wanita dengan hipertensi gestasional akhirnya mengalami preeklamsia.

Praeklampsia. Praeklamsia terjadi saat hipertensi terjadi setelah 20 minggu kehamilan. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan pada sistem organ seperti ginjal, hati, darah atau otak. Tanda-tanda kondisi ini adalah sakit kepala yang tidak tertahankan, nyeri perut bagian atas sebelah kanan, penglihatan memudar, jumlah urin menurun, kadar trombosit menurun.

Praeklampsia yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi serius – bahkan fatal – untuk ibu dan bayi, termasuk perkembangan kejang (eklamsia).

Eklamsia. Eklamsia terjadi ketika ibu hamil dengan kondisi praeklamasi mengalami kejang-kejang. Ini adalah kondisi terparah terkait hipertensi pada kehamilan.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi pada kehamilan menimbulkan berbagai risiko, diantaranya:

Penurunan aliran darah ke plasenta. Jika plasenta tidak mendapatkan cukup aliran darah maka bayi Anda akan menerima lebih sedikit oksigen dan sedikit nutrisi. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan yang lambat, berat badan ketika lahir rendah atau kelahiran prematur, menyebabkan masalah pernafasan, peningkatan risiko infeksi dan komplikasi lainnya pada bayi.

Abrupsio plasenta. Praeklampsia meningkatkan risiko terhadap kondisi di mana plasenta terpisah dari dinding dalam rahim sebelum persalinan. Hal ini dapat menyebabkan pendarahan berat yang bisa mengancam jiwa Anda dan bayi Anda.

Pertumbuhan janin terhambat. Hipertensi bisa berakibat pada terlambatnya atau menurunkan pertumbuhan bayi Anda.

Kelahiran prematur. Terkadang diperlukan persalinan dini untuk mencegah komplikasi yang mengancam jiwa saat Anda memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan.

Penyakit kardiovaskular. Praeklampsia dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah jantung (kardiovaskular) pada masa mendatang. Risiko penyakit kardiovaskular di masa depan lebih tinggi jika Anda memiliki praeklampsia lebih dari satu kali atau Anda memiliki kelahiran prematur karena memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan.

Hipertensi dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat yang dapat membuat ibu hamil terhindar. Jauhi penyebab hipertensi seperti hindari stress, merokok, konsumsi protein tinggi, hindari konsumsi berlebih makanan yang mengandung garam. Lakukan kontrol rutin saat masa kehamilan dan ikuti semua petunjuk yang disarankan oleh dokter kandungan Anda. Ketika Anda menderita hipertensi, dokter akan memberikan obat untuk menurunkan hipertensi pada kehamilan. Diskusikan dengan dokter Anda bagaimana hipertensi dapat mempengaruhi Anda dan bayi Anda selama kehamilan dan apa yang dapat Anda lakukan untuk mencegah atau mengurangi masalah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*